Lampu yang Selalu Menyala di Ujung Gang

Malam di kota itu tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara gemerlap lampu jalan dan suara kendaraan yang mulai jarang lewat, selalu ada sudut kota yang menyimpan cerita. Gang kecil tempat aku tinggal adalah salah satunya.
Gang itu sempit, hanya cukup untuk satu mobil lewat. Di kiri kanan berdiri rumah-rumah tua yang sebagian besar sudah dihuni puluhan tahun oleh keluarga yang sama.
Namun di ujung gang, ada satu rumah yang selalu membuat orang penasaran.
Rumah itu tidak besar, tidak juga terlalu tua. Tapi ada satu hal yang aneh.
Lampunya tidak pernah padam.
Setiap malam, tepat ketika jam menunjukkan pukul sebelas, lampu di teras rumah itu menyala. Cahayanya hangat, kekuningan, menerangi sebagian jalan di depannya.
Dan setiap pagi, sebelum matahari terbit, lampu itu kembali mati.
Tidak ada yang pernah benar-benar melihat siapa yang tinggal di sana.

Beberapa tetangga bilang rumah itu dihuni seorang penulis yang jarang keluar. Yang lain mengatakan pemiliknya seorang pria misterius yang bekerja di malam hari.
Tapi tidak ada yang benar-benar tahu.
Aku sendiri sudah tinggal di gang itu hampir setahun. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan rumah tersebut.
Sampai suatu malam, saat listrik di seluruh gang tiba-tiba padam.
Seluruh rumah gelap gulita.
Kipas berhenti berputar. Suara televisi dari rumah tetangga ikut lenyap. Jalanan menjadi sunyi.
Tapi anehnya, lampu di rumah ujung gang tetap menyala.
Aku berdiri di depan jendela, menatap ke arah ujung gang dengan perasaan tidak enak.
Bagaimana mungkin lampu itu masih hidup sementara seluruh listrik di daerah kami mati?
Rasa penasaran yang selama ini hanya sekadar pikiran kecil tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat.

Malam itu aku memutuskan untuk berjalan ke ujung gang.
Langkahku pelan, hanya diterangi cahaya lampu misterius itu.
Semakin dekat, suasana terasa semakin sunyi. Seolah-olah seluruh gang sedang menahan napas.
Ketika akhirnya aku berdiri di depan rumah itu, aku baru sadar sesuatu yang lain.
Tidak ada suara.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara orang berbicara. Bahkan tidak ada suara langkah dari dalam rumah.
Hanya lampu yang menyala.
Aku mendekati pagar besi kecil di depannya. Catnya sudah mulai mengelupas.
Saat aku hampir menyentuh gagangnya, pintu rumah itu tiba-tiba terbuka sedikit.
Aku membeku.
Dari celah pintu muncul cahaya yang lebih terang.
Lalu terdengar suara langkah.

Perlahan.
Tenang.
Seorang pria muncul di balik pintu. Topi gelap menutupi sebagian wajahnya.
Dia menatapku beberapa detik, seolah sudah tahu aku akan datang.
“Akhirnya ada juga yang cukup penasaran untuk datang ke sini,” katanya dengan suara tenang.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Lampu ini,” lanjutnya sambil menunjuk lampu teras, “sudah menyala setiap malam selama bertahun-tahun.”
Aku masih diam.
“Banyak orang melihatnya. Tapi hanya sedikit yang berani mendekat.”
Angin malam berhembus pelan melewati gang.
“Kenapa lampunya tidak pernah padam?” akhirnya aku bertanya.

Pria itu tersenyum tipis.

“Karena cerita tidak pernah berhenti lahir di malam hari.”

Dia membuka pintu sedikit lebih lebar.

Di dalam rumah terlihat sebuah ruangan penuh meja, kertas, dan buku.

Seolah seluruh rumah itu adalah tempat seseorang menulis.

“Setiap malam,” katanya lagi, “aku menulis cerita dari hal-hal yang orang lain tidak berani ceritakan.”

Aku menatap ruangan itu dengan rasa ingin tahu yang semakin besar.

“Dan malam ini,” lanjutnya sambil tersenyum, “mungkin aku baru saja menemukan cerita baru.”

Dia menatapku sejenak.

Lalu menutup pintu perlahan.

Lampu di teras masih menyala.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa rumah itu bukan hanya menyimpan rahasia.

Ia juga menciptakan cerita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *